Tuesday, November 24, 2009

Restoran Bunga Rampai

Masakan Indonesia yang bisa dinikmati dalam gedung bernuansa kolonial hanya ditemui di Restoran Bunga Rampai. Bisnis resto fine dinning bermenu Indonesia masih sangat menjanjikan. Enny Ratnawati A.

JIKA Anda melewati Jalan Cik Di Tiro, Menteng, Jakarta Selatan, sekali-kali mampirlah ke sebuah rumah bergaya kolonial. Letaknya persis berseberangan dengan Jakarta Eye Center. Mulanya, mungkin Anda mengira itu sekadar rumah bergaya kolonial. Dulunya memang begitu. Tapi, kini, rumah tersebut telah disulap menjadi restoran yang populer dengan nama Bunga Rampai.

Bunga rampai sendiri berarti macam-macam bunga yang dirangkai dalam satu wadah atau vas bunga. Sang pemilik restoran merasa nama ini sesuai dengan konsep restorannya yang menyajikan masakan Nusantara di satu tempat. Meski terhitung baru, restoran yang di-launch pada 7 Juli 2007 ini berani menghidangkan makanan yang kental dengan bumbu-bumbu tradisional dan bercita rasa unik.

Beraneka ragam menu nusantara dapat Anda nikmati di restoran yang dimiliki enam wanita pencinta kuliner ini. Pembedanya dengan restoran lain hanya terletak pada konsep restoran yang fine dinning. Mulai dari makanan pembuka (appetizer), makanan utama (main), dan makanan penutup (desert), lengkap tersedia.

Kalau Anda ingin menikmati makanan pembuka terlebih dulu, salah satu makanan yang layak dicoba adalah Selada Menteng. Menu ini mirip sekali dengan asinan, berisi irisan bermacam sayur dan buah yang disiram saus kecokelatan. Rasa yang asam, pedas manis, dan segar, sangat cocok untuk membangkitkan selera makan.

Selain Selada Menteng, ada menu lain yang bisa dipilih untuk appetizer. Jika suka menu pembuka yang bukan sayuran, Anda bisa mencoba Sosis Gedongan. Tersedia dua pilihan, yaitu isi daging sapi dan daging ayam. Sebagai pelengkap untuk menikmati menu ini, saus berwarna kekuningan dihidangkan dalam wadah kecil. Sosis yang disajikan seperti obat nyamuk bakar yang berbentuk melingkar ini juga nikmat dicocol dengan acar dan saus sambal.

Pilihan makanan utama lebih banyak lagi dan porsinya tentu saja lebih besar. Menurut J. Williams, Public Relations (PR) Restoran Bunga Rampai, kepada InfoBank, belum lama ini, menu yang menjadi favorit pengunjung adalah Nasi Buketan. Saat sekilas membaca daftar menu, tak jarang yang mengira makanan ini nasi ketan. Padahal, bukan. Nasi Buketan di restoran ini adalah nasi berwana hijau yang dilengkapi dengan bermacam lauk dalam satu piring.

Warna hijau pada nasi berasal dari daun pandan dan air suji. Lauk pelengkapnya terdiri atas ayam goreng, serundeng, satai daging sapi, perkedel jagung, tempe orek, serta sambal goreng kentang yang diiris kecil-kecil dan rasanya agak pedas. Nasi Buketan ala Restoran Bunga Rampai juga dilengkapi sambal kacang. Untuk menikmati seporsi menu ini, Anda mesti mengeluarkan uang Rp55.000.

Anda juga bisa menjajal Itik Keling. Keling dalam bahasa Jawa berarti hitam. Menu itik yang disajikan di restoran ini sekilas tampak hangus, tapi sebenarnya tidak. Satu porsinya berisi empat irisan itik goreng yang empuk dan sangat renyah. Agar makin menggugah selera, itik disiram dengan sambal yang rasanya pedas manis. Harga Itik Keling per porsi Rp65.000.

Menu unggulan yang juga menjadi favorit pengunjung adalah Sambal Mahkota Dewa. Menurut Williams, masakan yang aslinya berasal dari Kalimantan Timur ini merupakan sambal mangga plus potongan kecil kacang panjang yang disajikan dalam piringan besar. Rasanya khas, perpaduan pedas dan asam.
Penyajiannya pun cukup unik. Di atas sambal diletakkan beberapa udang galah renyah. Tidak heran, makanan ini diberi nama Sambal Mahkota Dewa karena penyajiannya memang mirip mahkota.

Saatnya menikmati hidangan pencuci mulut alias makanan penutup. Restoran ini juga menyediakan bermacam desert. Mulai dari berbagai jenis teh, es tradisional, hingga menu penutup yang lazim seperti es krim. InfoBank tergiur mencoba menu favorit, yaitu Lava Chocolate. Karamel disiram cokelat panas dan disajikan bersama es krim vanila. Rasanya luar biasa. Karamel cokelat yang masih hangat itu di lidah bercampur dengan dinginnya es krim yang lumer. Dengan harga Rp37.500, pengunjung restoran tidak akan kecewa memilih menu ini.

Secara umum, lanjut William, restoran Bunga Rampai memang membidik konsumen A+ atau kelas atas. Karena itu, harga makanan yang ditawarkan juga relatif mahal. Kendati tidak murah, lidah juga tidak bisa dibohongi. Belum setahun restoran ini beroperasi, rata-rata pengunjung yang datang per hari bisa mencapai 100 hingga 110 orang.

Restoran ini memiliki daya tampung maksimal 400 orang. Karena kapasitasnya cukup besar, Bunga Rampai menjadi alternatif tempat pertemuan (meeting) berbagai kalangan, mulai dari orang Indonesia hingga orang asing. Tujuh ruangan dengan tema botanika bisa menjadi pilihan.

Untuk pembayaran, restoran Bunga Rampai menyediakan sejumlah alternatif. Sehingga, pengunjung bisa membayar secara tunai, melalui kartu debit, ataupun kartu kredit. Tapi, selama ini, kata Williams, mayoritas pengunjung lebih banyak menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran. Penasaran ingin menjajal makanan Indonesia di gedung nuansa kolonial? Datang saja ke restoran Bunga Rampai.

No comments:

Post a Comment