Thursday, June 7, 2007

BISNIS SAMPINGAN VS BISNIS UTAMA

Menambah penghasilan di luar pekerjaan resmi memang sah-sah saja. Tapi, ada beberapa etiket yang mesti dipatuhi. Apa saja etiketnya? Apa keuntungan mempunyai bisnis sampingan?
Enny Ratnawati A.

BISNIS atau pekerjaan sampingan (side job) mungkin bukan istilah baru lagi. Bisnis sampingan, yaitu bisnis yang dilakukan seseorang di luar pekerjaan utama atau formal. Dulu, banyak orang malu-malu mengatakan bisnis sampingan yang ditekuninya kepada orang lain. Alasannya takut dianggap tidak profesional.Namun, sekarang, zaman telah berubah. Orang pun sepertinya tidak malu-malu lagi mengatakan bisnis sampingan yang dilakoninya kepada orang lain. Bisa jadi, hal itu akibat biaya kebutuhan hidup yang semakin meningkat, meski banyak juga yang menekuni bisnis sampingan karena maksud lain. Tujuan orang menekuni bisnis sampingan memang bermacam-macam. Ada yang menekuni bisnis sampingan karena tuntutan kebutuhan ekonomi. Ada pula yang menekuni bisnis sampingan sekadar menyalurkan hobinya sekaligus mencari dunia baru di luar pekerjaan yang ditekuninya saat ini. Apa pun tujuannya, setiap orang boleh memiliki bisnis sampingan sepanjang tidak melanggar etiket berbisnis dan profesionalisme. Tapi, yang harus diingat, pekerjaan utama tetap dikedepankan. Jangan sampai karena asyik menggeluti bisnis sampingan, pekerjaan utama terbengkalai.Roy Sembel, pengamat financial planner, mengemukakan, meskipun labelnya hanya “pekerjaan sampingan”, pekerjaan tersebut harus dijalankan dengan sepenuh hati. Roy menyarankan, orang yang memiliki pekerjaan atau bisnis sampingan sebaiknya memiliki kemampuan membagi waktu dengan baik. Dengan begitu, pekerjaan utama tidak terbengkalai, dan bisnis sampingan berjalan mulus.Roy menambahkan, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seseorang memutuskan menekuni pekerjaan sampingan. Satu, pekerjaan utama harus sudah mapan. ”Pastikan pekerjaan utama sudah mapan. Jadi, Anda punya waktu untuk berkonsentrasi dengan side job,” ujarnya.Dua, sebisa mungkin memanfaatkan kompetensi dari pekerjaan utama. Dengan demikian, pekerjaan sampingan tidak perlu dimulai dari nol. Kompetensi ini bisa dikatakan modal awal dari bisnis sampingan yang akan ditekuni. Modal awal yang lain bisa dengan memanfaatkan jaringan (networking) yang ada. Ini akan menentukan berhasil tidaknya pekerjaan sampingan ke depannya.Bisnis sampingan terkadang bisa berubah menjadi bisnis utama. Wanda Hamidah, presenter, model, dan juga mantan aktivis Partai Amanat Nasional (PAN) contohnya. Semula, restoran Jepang yang ia miliki saat ini hanyalah sebagai bisnis sampingan. Tapi, sekarang, bisnisnya itu malah menjadi bisnis utamanya. Menurut Wanda, suaminya yang merintis usahanya itu. “Saya sendiri nggak punya background bisnis. Dan, alhamdulillah suami saya men-support saya untuk menjadi pengusaha,” cetusnya. Orang menjadikan bisnis sampingannya sebagai bisnis utama bisa karena bosan dengan profesi utamanya. Wanda, misalnya, mengaku sudah jarang menjalankan profesi utamanya, yaitu dunia hiburan (entertain). Kini, ia lebih banyak berkonsentrasi di bisnis barunya tersebut.Punya pekerjaan sampingan memang hak setiap orang. Apa pun latar belakangnya. Benny Nainggolan, mantan Deputy Director Business Services Asuransi Bintang, misalnya, mengaku mempunyai perusahaan pengelola (manajemen) artis sebagai usaha sampingannya. Perusahaan sampingannya itu ia beri label ALTA Management. Perusahaan tersebut ia didirikan bersama beberapa temannya, beberapa tahun lalu. Ide pendirian perusahaannya itu sendiri berawal dari hobinya yang suka menyanyi. Benny mengaku tidak mengeluarkan kocek begitu besar untuk mendirikan perusahaannya itu. Ia juga tidak menerjuni secara langsung pekerjaan sampinganya itu. Tugasnya di ALTA hanya sebatas memberikan pengarahan dan strategi. Benny optimistis ALTA akan berkembang dan berprospek baik. “Hanya melihat potensi dan kesempatan,” kata Benny yang kini sudah tidak di bekerja Asuransi Bintang lagi. Ia berniat membuka usaha konsultan asuransi.Memulai berbisnis sampingan bukan pekerjaan yang mudah. Menurut Roy Sembel, biasanya orang terpaku pada paradigma tradisional. Setelah bekerja di suatu tempat, mereka akan merasa kemampuannya hanya itu-itu saja. Padahal, belum tentu demikian. “Bisa saja pekerjaan utama yang saat ini sedang dia (seseorang) jalani tidak dapat dijalankan dengan maksimal, di side job dia bisa mengembangkan potensinya,” ujar Roy.Masih kata Roy, bila seseorang bisa menemukan bakatnya dengan baik, potensinya bisa keluar dengan maksimal. Untuk mengetahuinya, yaitu dengan bekerja sampingan. “Perlu usaha untuk menemukan side job yang sesuai dengan bakat Anda. Kalau tidak menemukan, ya begitu-begitu saja,” ujarnya.Hal itu pula yang dialami Gina Ardiany Karsana, karyawan perusahaan asuransi Central Asia Raya (CAR). Awalnya, posisi Gina adalah sebagai agen asuransi untuk wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia menduduki posisi tersebut sejak 1995. Karena prestasinya dinilai perusahaan bagus, akhirnya Gina diangkat menjadi duta (ambassadress) CAR sekaligus menjadi ketua harian untuk bagian pemasaran (marketing).Keinginan untuk menerjuni bisnis sampingan bermula dari pertemuan deangan salah seorang kenalan ketika Gina sedang mengantar anaknya kesekolah. Kenalannya itu kemudian menawari Gina berbisnis. Bersama dengan kenalannya itu, Gina mendirikan sebuah taman kanak-kanak (TK) yang diberi nama Morning Star. Sayang, bisnisnya itu tidak berjalan dengan baik. Gina pun mengambil alih bisnisnya itu dan mencoba menanganinya sendiri. Ia mencari guru sendiri. Namun, bisnisnya belum juga berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tenaga pengajarnya yang berasal dari Filipina keluar. Gina tidak patah semangat. Ia memutuskan untuk mencari sekolah dengan sistem waralaba (franchise). Bertemulah ia dengan High Scope Indonesia yang kemudian diseriusinya. Pekerjaan sampingannya itu kini dijadikannya sebagai pekerjaan utama. Gina menjabat sebagai managing director di High Scope Indonesia. Bagaimana dengan pekerjaan utamanya di asuransi? Menurut Gina, pekerjaan utamanya di asuransi masih tetap dijalankan, terutama sebagai duta di CAR. Selebihnya ia menjadi semacam konsultan asuransi dibantu seorang sekretaris. Kapan seseorang sebaiknya mulai meninggalkan bisnis utamanya dan beralih ke bisnis sampingan? Menurut Roy Sembel, lihat potensi bisnis sampingan. Mereka yang suka mengambil risiko, lanjut Roy, tidak masalah bila meninggalkan bisnis utama yang ditekuninya selama ini dan beralih ke bisnis sampingan. “Anda lihat potensi side job bagus, maka Anda siap pindah dari pekerjaan utama ke side job,” ujarnya.Masih kata Roy, mereka yang menjadikan pekerjaan sampingan sebagai pekerjaan utama harus siap untuk tenggelam. Artinya, seseorang yang sudah dikenal di suatu bisnis tertentu, belum tentu dikenal di bisnisnya yang baru. Ia harus mulai melakukan bisnis barunya dari awal. Bila usaha barunya berhasil dan berkembang tentu tidak ada masalah. Yang menjadi persoalan adalah bila bisnis barunya itu gagal. “Hati-hati, nanti (bisnis) keduanya hilang,” Roy mengingatkan.Memang tidak mudah menjalankan dua pekerjaan sekaligus. Dibutuhkan profesionalisme yang sangat tinggi. Menurut Gina, paling tidak seseorang bisa membagi waktu dengan baik kalau mau menjalankan dua pekerjaan sekaligus, walaupun pada akhirnya ada yang dikalahkan. Seseorang yang benar-benar profesional tentu bisa memilih pekerjaan yang akan digelutinya. Gina, misalnya, saat ini sudah tidak lagi menjabat sebagai ketua harian di CAR. “Saya hanya sebagai ambassadres,” ujar Gina. Ia kini sedang mencoba mengembangkan bisnis pendidikannya. Gina berencana menambah jenjang pendidikan untuk High Scope Jakarta Barat, yaitu tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).Berkat kerja kerasnya, Gina kini mendapatkan kepuasan dari pekerjaan yang digelutinya. Begitu pula dengan Benny. Menurut Benny, selain penghasilannya bertambah, hobinya sebagai penyanyi rohani juga makin realistis untuk diwujudkan kembali. Sementara, gina benar-benar bahagia dengan yang didapatnya selama ini. Gina merasa bahagia karena tanggung jawab dan amanah yang selama ini dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan dengan baik. Apalagi, uang bukan segala-galanya baginya.


Etika Berbisnis Sampingan

ADA beberapa hal yang perlu diperhatikan seseorang yang akan atau sudah menjankan bisnis sampingan (side job). Satu, carilah bisnis sampingan yang tidak menimbulkan konflik kepentingan dengan perusahaan Anda. Misalnya Anda bekerja di lembaga konsultan keuangan, jangan mempunyai bisnis sampingan perusahaan konsultan keuangan juga. Sebab, boleh jadi, klien perusahaan Anda berpindah menjadi klien perusahaan Anda.Dua, tetaplah bekerja secara profesional. Patuhi jam kerja yang ditentukan dan kerjakan tugas kantor dengan baik. Kualitas harus tetap dijaga meskipun Anda punya pekerjaan lain.Tiga, ada baiknya berbicara dengan atasan tentang bisnis yang Anda geluti. Dukungan atasan akan mempermudah dan meringankan beban mental Anda. Bila Anda seorang atasan atau eksekutif puncak, Anda harus pandai-pandai mengatur waktu. Seharusnya melimpahkan pekerjaan sampingan ini kepada orang lain, sehingga Anda bisa fokus di bisnis utama.Empat, bila bisnis sampingan Anda sudah makin maju dan Anda perlu berkonsentrasi penuh, tidak ada salahnya keluar dari pekerjaan utama. Hanya, Anda tetap perlu mempertimbangkan untung ruginya berbisnis di perusahaan yang baru.

(fROM : Majalah InfoBank, Agustus 2006)

No comments:

Post a Comment